P eran Pendidikan Pondok Pesantren dalam Perbaikan Kondisi Keberagaman Lingkungan              Oleh : Khumairoh* Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang berbasis masyarakat penyelenggaraannya meliputi pendidikan diniyyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya (IKAPI, 2010: 146), tujuan pondok pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli agama ( Mutafaqqih fi al-din ) dan menjadi muslim yang memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kualitas untuk membangun kehidupan yang Islami di lingkungan masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka peran pesantren di lingkungan masyarakat sangat besar. Oleh karena itu, kita tidak dapat mendiskreditkan keberadaan pesantren di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada sudut pandang lain, fungsi pendidikan pondok pesantren dapat dikatakan sebagai alat pengend...

 

Ulama Perempuan dalam Segi Pandang Islam

Oleh : Khumairoh*

Istilah Ulama, seringkali dikaitkan dengan kaum laki-laki. Padahal tidak bisa disangkal adanya figur agama perempuan dalam sejarah Islam. Karena itu, usaha mengungkap sisi ke-ulama-an perempuan menjadi kajian yang patut dikembangkan dalam segi pandang Islam.

             Lahirnya Islam memberi angin segar bagi kemanusiaan, salah satumya adalah pengakuan terhadap perempuan. Pada masa pra-Islam, perempuan dianggap makhluk Tuhan yang hina. Tak heran banyak ditemukan diskriminasi sosial terhadap mereka dan status sosial perempuan ditempatkan pada urutan paling bawah. Sehingga wajar bila saat itu pendidikan kaum hawa sangat tidak diperhatikan. Namun, pada masa Nabi muncul sosok perempuan yang berpengaruh dalam perkembangan Islam selanjutnya.

            Aisyah ra. (wafat pada 678 M) bisa disebut sebagai representasi ulama’ perempuan di masa Nabi. Selain sebagai istri Nabi Muhammad saw, beliau dikenal sebagai sahabat perempuan yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadist, fiqih, sejarah, tafsir dan ilmu astronomi. Aisyah ra. Yang diberi gelar ummu al-mu’minin (ibu orang-orang yang beriman) adalah seorang perempuan yang memiliki pemikiran cerdas sejak muda. Banyak ilmu dari Nabi yang diserap langsung oleh Aisyah. Tidak aneh jika kemudian dia menjadi tempat bertanya bagi banyak sahabat dan menjadi guru para tabi’in.

            Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa abad setelah nabi wafat, sosok dan posisi sosial perempuan yang semula membaik kembali mengalami krisis. Secara sosial, posisi perempuan malah berbalik kembali ke nilai-nilai pra-Islam. Selain masalah menguatnya lagi tribalisme (rasa kesukuan) Arab, pasca Nabi, Fatimah Mernisi memvonis adanya pelepasan historis bentuk pemahaman ajaran agama terhadap perempuan. Akibatnya sangat jelas, patriarki kembali memberi pengaruh kuat dalam menafsirkan ajaran Islam.

            Di lain pihak, ulama merupakan sosok yang sangat strategis dalam Islam. Dalam banyak hal, mereka dipandang menempati kedudukan dan otoritas keagamaan setelah Nabi Muhammad SAW. sendiri. Pendapat mereka juga dianggap otoritas dan bersifat mengikat. Tidak hanya dalam hal ibadah saja, tapi juga aspek kehidupan sehari-hari. Begitu “agungnya” kedudukan ulama’, sehingga tidak semua orang bercita-cita ingin menjadi ulama’. Dalam pemikiran mayoritas masyarakat, ketika mendengar kata ulama’ yang ada dalam bayangan mereka adalah orang suci, ahli agama dan sudah pasti berjenis kelamin laki-laki. Padahal jauh saat masa Nabi, sejarah membuktikan bahwa perempuan pun ternyata bisa berkiprah menjadi seorang ulama’.

            Peran perempuan dalam ranah publik tidak bisa dipandang sebelah mata begitu saja. Fenomena pemimpin atau ulama’ perempuan merupakan bukti bahwa perempuan tidak kalah penting dari kaum laki-laki. Adapun selama ini yang menganggap bahwa perempuan sebagai makhluk kedua pada era modern sekarang ini sudah terbantahkan. Walaupun sebenarnya Islam datang sudah mulai menunjukkan bahwa perempuan dengan laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam segala hal, termasuk dalam ranah politik atau kepemimpinan. Namun pada era-era awal Islam posisi perempuan dalam ranag public masih belum diakui. Di era modern sudah banyak sekali ulama’ perempuan yang tampak dalam beberapa hal mendasar dan melekat dalam dirinya. Diantaranya adalah kapasitas keilmuan agama yang mumpuni, progresifitas akademik, jiwa sosial kemanusiaan yang tinggi, kemampuan beradptasi dengan masyarakat yang baik dan ketokohan yang diakui oleh masyarakat luas.

*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini