- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Urgensi Literasi Digital di Era Industri 4.0
Oleh : Farida Hanum*
Literasi digital merupakan kemampuan
untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Kajian
literasi digital sudah banyak diteliti oleh beberapa ahli di lingkup
internasional, namun di Indonesia penelitian di bidang ini belum banyak
dilakukan. Kompetensi literasi digital ini berguna untuk menghadapi restaurant dalam bidang informasi akibat munculnya internet. Faktanya, saat ini pengguna
internet semakin meningkat dan mayoritas berusia remaja. Penggunaan internet
oleh remaja pun bervariasi, bukan hanya digunakan untuk mencari informasi
akademik melainkan juga untuk membangun relasi melalui situs jejaring sosial.
Permasalahannya, kemajuan teknologi internet menyebabkan penggunaan teknologi
informasi yang berlebihan di kalangan remaja sehingga menimbulkan terjadinya
kasus-kasus yang tidak diinginkan. Oleh Karena Itu sangat penting literasi digital
dalam era industrial 4.0.
Sejak zaman dahulu, literasi sudah
menjadi bagian dari kehidupan dan perkembangan manusia, dari zaman prasejarah
hingga zaman modern. Dari zaman prasejarah manusia hanya membaca tanda-tanda
alam dan symbol untuk mempertahankan diri. Seiring dengan perkembangan waktu,
manusia memasukki tahap perkembangan ditaraf yang sangat maju, dari tidak kode
dengan angka, dapat membaca dan menulis sehingga menghasilakn beberapa
pemikiran dan budaya. [1]
Masalah literasi digital merupakan
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari informasi. Informasi merupakan bagian
yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan informasi setiap orang
dapat melakukan berbagai banyak hal. Sedangkan informasi dari tahun ketahun,
dari waktu ke waktu akan terus berkembang dan diikuti dengan perkembangan
informasi. Informasi tidak hanya diperoleh lewat media cetak saja, sekarang
informasi dapt diperoleh dengn mudah melalui digitalisasi. Oleh karena itu,
masyrakat dapat mengikuti perkembangan zaman sehingga tidak tertinggal
informasi.
Urgensi Literasi Digital di Era Industri 4.0
Sejak tahun 2018, tantangan bangsa
ini adalah era revolusi industry 4.0, dimana era digital menjadi salah satu rujukan
dalam tatanan kehidupan saat ini. Untuk menghadapi revolusi industry 4.0
diperlukan literasi digital yang harus direspon dengan baik, karena ini menjadi
sangat penting untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas yang akan
menjadi penyongsong dan penerus bangsa.
Industry 4.0 merupakan nama yang
diberikan pada tren saat ini tentang
otomasi dan pertukaran data manufaktur.
Sedangkan literasi digital merupakan kemampuan yang sesuai dengan
individu untuk hidup, belajar dan
bekerja dalam masyarakat digital. Secara umum,
yang dimaksud literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi, untuk
menentukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan informasi.[2] Literasi
digital tidak hanya memahami fungsional teknik informasi dan komunikasi saja,
tapi menggambarkan keragaman praktik, perilaku dan identitas digital yang lebih
bervariasi. Dalam hal ini, literasi digital akan selalu berkembang dari waktu
kewaktu sesui dengan perkembangan zaman.
Dalam menghadapi era revolusi 4.0
tidak cukup dengan kemampuan menulis, membaca,
dan menghitung. Dibutuhkan untuk menganalisa data yang terdapat didunia
digital dan memahami sistem
serta mampu menjalin komunikasi yang baik dengan sesama antar negara satu ke negara lain, pulau satu ke pulau lain. Karena salah satu pengguna
internet yang sangat besar adalah Negara Indonesia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Pusat Kajian Komunikasi (Puskokom)
Universitas Indonesia, dengan jumlah pengguna internet pada awal tahun 2015 sebesar 88.1 juta orang dan akan terus bertambah dalam kurung waktu satu tahun.[3]
Setipa individu perlu memahami bahwa
literasi digital merupakan kebutuhan yang sangat penting agar dapat
berpartisipasi di era industtri 4.0. Saat ini literasi digital sangat penting
dengan membaca, menulis, berhitung dan dengan disipli ilmu lainnya. Generasi
sekarang bertumbuh dan berkembang dengan teknologi digital yang tidak terbatas
ruang dan waktu.
Setiap
individu, hendaknya dapat
bertanggungjawab terhadap teknologi yang digunakan untuk lingkungan sekitar
atau dilingkungan keluarga. Walaupun
teknologi ini dapat digunakan berkomunikasi, berinteraksi serta mencari
informasi, sebagai pengguna yang
cerdas, sebaiknya memilahnya terlebih
dahulu, karena dunia maya saat ini
sangat dipenuhi dengan berita hpas tanpa
ada pertanggungjawaban sehingga dapat merusak ekosistem digital saat ini.
Menjadi
literasi digital seharusnya dapat memproses informasi secara baik, memahami pesan, serta berkomunikasi secara
efektif dalam berbagai bentuk. Bentuk dalam artian ini adalah mampu
mengkolaborasi, menciptakan,
mengkomunikasi berbagai informasi sehingga dapat digunakan secara efektif untuk
mencapai tujuan. Setiap individu seharusnya bukan saja menjadi Konsumen yang
pasif tapi harus menjadi produsen yang aktif.
Jika kita sebaai generasi millenial kurang menguasi komposisi dalan
digital, hal tersebut bisa saja akan
menjadi bumerang bagi generasi sekarang.
Karena meraka akan tersingkirkan dalam bersaing memperoleh pekerjaan
serta interaksi sosial.
Literal
digital harus menciptakan tatanan masyarakat yang berpola pikir kritis-kreatif
sehingga tidak akan termakan isu yang provokatif serta menjadi korban dari
informasi yang hoax. Dengan demikian kehidupan sosial dan budaya masyarakat
akan aman dan kondusif. Membangun budaya literasi sangat penting dan harus
melibatkan masyarakat secara bersama-sama. Keberhasilan dalam bidang
inimerupakan salah satu percapain dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.[4]
*) Mahasiswa KKN
RDR UIN Walisongo Posko 52
[1] Rullie Nasrullah dkk, Gerakan Literasi Nasional, (Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta, 2017). Hal. 3
[2] Acep Syarifudin dkk, karangka Literasi Digital,
[3] Rullie Nasrullah dkk, Gerakan Literasi Nasional, (Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta, 2017). Hal. 1
[4] Rullie Nasrullah dkk, Gerakan Literasi Nasional, (Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan : Jakarta, 2017). Hal. 5
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar