- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Peran Santri Dalam Menghadapi New Normal
Oleh : Izul Fitriyani Nuzulusalis*
Pondok pesantren sebagai lembaga
pendidikan agama islam yang mampu mencetak generasi-generasi ulama dan mampu
meningkatkan kesejahteraan Indonesia. Pesantren bisa dibilang tempat tinggal
santri yang mengaji di tempat tersebut, Seperti yang kita ketahui bahwasannya
pondok pesantren mempunyai pimpinan yang sering di sebut ‘’kyai’’ yang mendidik
mereka selama di pesantren.
Sejak wabah corona melanda, menjadi
dilema besar yang di rasakan oleh Kyai, para asatid-asatidzah dan tentunya para
santri. Karena di dalam pondok pesantren tentunya tidak sedikit orang, bahkan
bisa ribuan orang, Kita tidak mengetahui, kapan saja virus corona menyebar,
karena di dalam pondok pesantren masih sulit menerapkan protokol kesehatan
secara ketat, terutama social distancing, maka semua pondok pesantren
diliburkan dan santri dipulangkan ke rumah dengan sesuai protokol kesehatan
yang di tentukan.
Semua langkah tersebut dilakukan
semata-mata untuk pencegahan dari virus covid-19 yang dinilai sangat rawan di
lingkungan pondok pesantren, meskipun begitu, santri yang dirumah tidak
sepenuhnya libur, akan tetapi tetap belajar walaupun menggunakkan media
internet. Karena menjaga protokol kesehatan santri lebih penting dari pada
tetap mengaji di tempat akan tetapi tidak menjaga protokol kesehatan.
Masa new normal adalah masa dimana
santri memang diwajibkan pulang ke pondok pesantren dengan tetap menjalankan
protokol kesehatan. Sebelum samapi di pondok pesantren mereka di wajibkan untuk
tes rapid dan isolasi mandiri di tempat karantina yang sudah disiapkan oleh
pondok pesantren, selain itu, mereka diwajibkan membawa handsanitizer, masker,
dan obat pribadi. Walaupun masa new normal, santri ketika mengaji tetap
mematuhi protokol kesehatan, seperti emmakai masker dan jaga jarak dengan
temannya.
Di pondok
pesantren pun tetap menerapkan salaman kepada kyai, namun tidak bersentuhan
secara langsung, akan tetapi salim dengan meletakkan tangan di dada saat
berhadapan dengan Kyai ataupun asatid, Sehingga protokol kesehatan tetap
berjalan. Dengan begitu tidak menghapus budaya santri untuk tadzim kepada Kyai.
Dengan demikian
kita dapat mengambil hikmah dari masa pandemi seperti ini, yaitu menjadikan
santri agar tidak gagap dalam berteknologi, terlebih pada era digital ini,
Sehingga aktifitas belajar mengajar pun masih tetap berjalan dimanapun dan
kapanpun. Karena itu salah satu harapan, bahwasannya santri harus bersyukur,
tidak mengeluh dengan keadaan seperti ini, dan diharapkan kepada seluruh santri
agar selama dirumah juga tetap menerapkan protokol kesehatan.
*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang
Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar