P eran Pendidikan Pondok Pesantren dalam Perbaikan Kondisi Keberagaman Lingkungan              Oleh : Khumairoh* Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang berbasis masyarakat penyelenggaraannya meliputi pendidikan diniyyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya (IKAPI, 2010: 146), tujuan pondok pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli agama ( Mutafaqqih fi al-din ) dan menjadi muslim yang memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kualitas untuk membangun kehidupan yang Islami di lingkungan masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka peran pesantren di lingkungan masyarakat sangat besar. Oleh karena itu, kita tidak dapat mendiskreditkan keberadaan pesantren di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada sudut pandang lain, fungsi pendidikan pondok pesantren dapat dikatakan sebagai alat pengend...

 

 

Pemanfaatan Media sebagai Proses Dakwah di Masa Pandemi

Oleh : Inayatul Ulya*

Dakwah menjadi bagian yang sangat esensial dalam kehidupan seorang muslim, dimana esensinya berada pada ajakan dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran demi keuntungan dirinya dan bukan untuk kepentingan pengajaknya. Pada masa Pandemi Covid-19 yang saat ini terjadi menjadikan dakwah melakukan perubahan dalam proses ajarannya. Hal ini menjadikan pemanfaatan media menjadi salah satu proses yang dilakukan agar tidak tertinggal oleh zaman dan dalam dakwah dan pendidikan Muhammadiyah.

Hal ini turut dikatakan oleh Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, bahwa teknologi memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan hal ini tidak bisa dipungkiri. Muhammadiyah harus mampu mengejar peralihan ini agar berjalan beriringan dengan perubahan zaman yang ada. Dahulu kita terbiasa dengan komunikasi face to face, tapi kini berubah menjadi komunikasi virtual. Perlu diketahui segmen dakwah ini dapat disebut sebagai digital native.

Proses dakwah ini menjadi tugas utama Muhammadiyah untuk dapat mengejar ketinggalan dan hadapi perubahan dan perkembangan teknologi melalui empat prinsip dasar. Mulai pengembangan teknologi, pengembangan konten, pengembangan infrastruktur dan pengembangan pribadi. Proses dakwah sebagai usaha mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka dunia dan akhirat.

Proses ini dilakukan atas dasar untuk mengubah respon kita untuk menjadi lebih adaptif dan literasi teknologi. Meskipun demikian, terdapat tantangan bagi Muhammadiyah saat ini teknologi sudah jadi kebutuhan pokok bagi era saat ini tiap dan kondisi itu diperkuat hasil penelitian dari PTMI UIN Jakarta yang menunjukkan bahwa 54,2 persen generasi saat ini selalu mencari informasi terkait agama dan lainnya melalui internet. Selain itu, yang menjadi tren saat ini dalam menganut ilmu agama, generasi saat ini tidak lagi mengenal organisasi Islam baik Muhammadiyah maupun NU. Mereka lebih merujuk kepada pribadi seseorang seperti tokoh-tokoh da'i masa kini. Hal ini menunjukkan peran teknologi khususnya media sangat berpengaruh ke eksitensi Muhammadiyah dalam melebarkan sayap dakwah dan pendidikan.

Kondisi saat ini yakni Pandemi covid-19 yang masih terjadi di era new normal saat ini seharusnya tidak menghalangi gerakan dakwah. Justru sebaliknya, ini dijadikan kesempatan bagi para dai untuk semakin kreatif dalam berdakwah.  Proses dakwah sendiri memiliki metode yang dapat dilakukan, diantaranya :

1.      Dakwah fardiyah yaitu dakwah seseorang kepada orang lain dalam jumlah yang sedikit.

2.      Dakwah ammah yaitu dakwah yang dilakukan seseroang dengan lisan yang ditujukan kepada banyak orang yang dimaksukan untuk menanamkan pengaruh.

3.      Dakwah bil lisan yaitu penyampaian secara lisan melalui ceramah dan komunikasi langsung dengan objek dakwah.

4.      Dakwah bil hal yaitu melalui perbuatan. Ini bisa dilihat bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabat. Misalnya, bagaimana ketika Mushab bin Umair, ketika menjadi duta dakwah di Madinah. Di sana, dakwahnya banyak diminati karena cara dakwah Mushab menarik banyak orang karena Mushab memwakai wewangian dan penampilan yang menarik.

5.      Dakwah bil tadwin yaitu melalui tulisan. Baik itu buku, koran, atau tulisan yang mengandung pesan dakwah.

6.      Dakwah bil hikmah. Yaitu, dakwah dengan cara arif dan bijaksana. Sehingga, membuat objek dakwah tertarik dengan materi dakwah tanpa ada tekanan dan konflik.

Semenjak dunia dilanda pandemi virus covid-19 beberapa bulan terakhir ini, maka terjadi banyak perubahan dalam proses dakwah, karena Tabligh akbar, seminar dakwah, pengajian, dilarang. Sementara, pandangan orang tentang dakwah itu adalah tabligh akbar dan hal itu saat ini tidak bisa dilakukan sebagai bagian dari pencegahan penyebaran virus corona. Karena itulah, di masa pandemi covid-19 ini, dan penerapan new normal sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran covid-19, maka ini bisa menjadi kesempatan di kalangan dakwah. Meskipun demikian, dalam kondisi ini seharusnya tidak membuat aktivitas dakwah terhenti. Justru seharusnya membuat aktivitas dakwah semakin berkembang dan maju. Karena proses dakwah ini dapat dilakukan secara virtual. Terutama, untuk mencegah perluasan virus covid-19.

Dakwah virtual ini atau di linimasa media sosial ini sifatnya low cost, tidak mahal dan tidak memerlukan biaya yang banyak. Di mana, dakwah virtual ini tidak membutuhkan sejumlah hal seperti halnya dakwah tabligh akbar seperti konsumsi ataupun biaya tak terduga lainnya. Dalam dakwah virtual, orang hanya butuh kuota internet dan kemauan. Karena itu, metode dakwah yang ketujuh adalah dakwah bil internet. Karena platform teratas untuk media dakwah terbaik di masa pandemi covid-19 ini adalah melalui media seperti youtube, dan media social lainnya seperti facebook, instagram, dan twitter. Selain itu, dapat live streaming melalui zoom, google meeting.

Sejatinya seorang dai saat ini perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang penguasaan teknologi informasi. Sangat disayangkan, jika seorang dai yang memiliki ilmu tetapi tidak tersampaikan kepada masyarakat di masa pandemi covid-19 ini. Namun, untuk hal ini, tidak bisa dipaksakan juga seorang dai yang berilmu harus menguasai dakwah virtual. Jika memang di daerahnya, terutama di pedesaaan, yang masyarakatnya juga belum akrab dengan teknologi informasi, dan juga adalah zona aman dari covid-19, dapat menerapkan metode dakwah melalui tatap muka.  Hal ini pun disebutkan dalam Alquran :

"Orang beriman, berimanlah!"

Perintah ini berarti bahwa kita harus selalu disuruh bergerak yaitu bahwa tugas dakwah harus selalu bergerak. Meski dakwah harus terus bergerak, dan harus dipikirkan metodenya. Salah satunya adalah memikirkan dakwah yang efektif. Para dai atau pegiat dakwah harus diberitahu tentang teknologi informasi. Misalnya, pelatihan untuk membuat film-film pendek yang bersifat dakwah. karena, ini bisa menarik kalangan milenial untuk menandingi konten-konten yang kurang positif.  Meskipun saat ini sedang terjadi problematika kehidupan ini semakin banyak maka harus semakin rajin sesuai dengan tantangannya. Para dai lebih kreatif lagi dalam berdakwah. Di mana tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat Islam yang indah, damai, dan tidak saling memusuhi.

Ciri dakwah yang berhasil yakni dakwah yang menciptakan generasi muslim yang baik yang bisa mengamalkan ajaran Islam dengan baik, mewujudkan pribadi muslim yang saling saling tolong menolong dalam kebersamaan, proses dakwah juga menunjukkan perintah kepada umat Islam untuk melakukan dakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Apabila seorang muslim mempunyai sesuatu kekuasaan tertentu maka dengan kekuasaannya itu ia diperintah untuk mengadakan dakwah. Jika ia hanya mampu dengan lisannya maka dengan lisan itu ia diperintahkan untuk mengadakan seruan dakwah, bahkan sampai diperintahkan untuk brdakwah dengan hati, seandainaya dengan lisan pun ternyata ia tidak mampu. Karena dalam perintah ini disampaikan Rasulullah kepada umatnya agar mereka menyampaikan dakwah meskipun hanya satu ayat. Ajakan ini berarti bahwa setiap individu wajib menyampaikan dakwah sesuai dengan kadar kemampuannya dan hal ini sesuai dengan situasi dan kondisi Pandemik yang terjadi saat ini.

 

*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini