- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menyiapkan
Generasi Hebat di Era Revolusi Industri 4.0
Oleh:
Novi Yunaning Tyas*
Industri 4.0 merupakan industri yang
menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Ini
merupakan trand otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur,
termasuk sistem cyber-fisik, internet untuk segala atau Internet
of Things (IoT), komputasi awan dan komputasi kognitif. Industri 4.0
menghasilkan “pabrik cerdas”. Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler,
sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik
secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat internet untuk
segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu
sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan (cloud
computing), layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan
dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.
Era revolusi industri 4.0 mengubah
konsep pekerjaan, struktur pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan dunia
pekerjaan. Sebuah survei perusahaan perekrutan internasional, Robert Walters,
bertajuk Salary Survey 2018 menyebutkan, fokus pada transformasi bisnis
ke platform digital
telah memicu permintaan profesional sumber daya manusia (SDM) yang memiliki
kompetensi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Era revolusi industri 4.0 juga
mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya
sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara
pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri.
Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya
menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya
saat ini belum ada, b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang
masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan
teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan
rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi tantangan
tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan
kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas.
Siapkah guru di Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0
ketika masih disibukkan oleh beban penyampaian muatan pengetahuan dan ditambah
berbagai tugas administratif? Saat ini guru merasa terbebani dengan kurikulum
dan beban administratif yang terlalu padat sehingga tidak lagi memiliki waktu
tersisa memberi peluang anak didik menjelajahi daya-daya kreatif mereka
menghasilkan karya-karya orisinal. Akibatnya, interaksi sosial anak didik
terbatasi, daya kreasinya terbelenggu, dan daya tumbuh budi pekerti luhurnya bantet.
Era revolusi industri 4.0 akan berdampak pada peran pendidikan
khususnya peran pendidik. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai
penyampai pengetahuan, maka mereka akan kehilangan peran seiring dengan
perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya. Kondisi tersebut
harus diatasi dengan menambah kompetensi pendidik yang mendukung pengetahuan
untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran mandiri.
Dalam konteks pembelajaran abad 21, pembelajaran harus menerapkan
kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi,
kemasyarakatan dan keterampilan karakter, tetap harus dipertahankan bahwa
sebagai lembaga pendidikan peserta didik tetap memerlukan kemampuan teknik.
Pemanfaatan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung era 4.0 merupakan
keharusan dengan model resource sharing
dengan siapapun dan dimanapun, pembelajaran kelas dan laboratorium dengan
augmented dengan bahan virtual, bersifat interaktif, menantang, serta
pembelajaran yang kaya isi bukan sekedar lengkap.
Kondisi tersebut bertolak belakang dengan implementasi pendidikan
dan pembelajaran saat ini yang dibatasi oleh dinding-dinding ruang kelas yang
tidak memungkinkan anak didik mengeksplorasi lingkungan pendidikan yang
sesungguhnya, ialah keluarga, masyarakat, dan sekolah. Guru menyelenggarakan
pembelajaran sebagaimana biasanya dan bukan sebagaimana seharusnya, miskin
inovasi dan kreasi. Proses pembelajaran di sekolah tidak lebih merupakan
rutinitas pengulangan dan penyampaian (informatif) muatan pengetahuan yang
tidak mengasah siswa untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya
serta kepedulian sosial. Guru menyelenggarakan pembelajaran tahun ini masih
seperti tahun-tahun sebelumnya.
*Mahasiswa KKN Reguler DR 75 UIN Walisongo Semarang
Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar