- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Menggelorakan Dakwah di Era Digital
Oleh : M. Aulia Rizal Firmansyah*
Perkembangan dunia digital, terutama dalam hal internet, membawa
pengaruh baru bagi manusia. Informasi seakan bejalan sangat cepat,
berkelanjutan, dan serentak. Ditambah internet yang biasa digunakan sekarang
dipermudah aksesnya, sehingga hal tersebut tidak lagi bisa dielakan. Karena
sifatnya yang cepat, terkadang konten di internet tidak begitu mendalam.
Aktualitas menjadi landasan utamanya, artinya apa yang menjadi trending
topic di media sosial, akan cepat berkembang menjadi isu masyarakat, bahkan
isu nasional.
Hal ini lah yang dapat di manfaatkan sebagai ladang dakwah santri.
Dengan kemudahan akses yang setiap orang pun mampu berargumen didalamnya. Tak
dapat dipungkiri, santri sendiri pun mampu menjadi bagian dari petani untuk
menanam ilmu-ilmu atau menebarkan dakwah tersebut. Peran santri pada masa ini
cukup dibutuhkan, apalagi ditengah konten kajian keislaman utamanya yang sudah
terpublikasi di internet, cenderung di dominasi oleh kelompok Islam radikal
yang bercorak ekstrem dan fundamentalis.
Selanjutnya, berbagai ormas Islam pun juga mulai marak memanfaatkan
media online, seperti website, blog, lalu media sosial lainnya facebook,
twitter, instragram dan media lainnya untuk menyebarkan informasi dan ladang
dakwah mereka. Isu-isu yang diangkat pun tak jauh dari persoalan ideologi
mereka misalnya kembali ke al quran dan sunnah, bid’ah, keharaman nasionalisme,
wajib dalam berkhilafah, hingga penetapan syari’at Islam.
Dalam era digital seperti sekarang ini, keberadaan informasi pun
tak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal ini menjadikan siapa saja termasuk
santri untuk menciptakan suatau susana yang baru. Namun, disisi lain bisa juga
menjadikan santri terbawa dan terpengaruhi oleh informasi yang belum tentu
keberadaannya dan kebenarannya. Bahkan parahnya, terkadang sebuah informasi
tersebut diolah sedemikian rupa untuk menguntungkan kelompok – kelompok
tertentu. Fenomena seperti ini, perlu disikapi dengan cara santri ikut
menyebarkan berdakwah dengan konten – konten yang positif. Akan tetapi, semua
itu juga dibutuhkan santri dalam segi berfikir yan kreatif dan kritis.
Berfikir kreatif dirtikan sebagai penerapan daya imaginasi untuk
memunculkan sebuah solusi terhadap tugas atau pemasalahan yang ada. Sedangkan
maksud dari berfikir kritis, disini dimaksud sabagai penilaian terhadap apa
yang harus dilakukan atau apa yang harus dipercaya dengan cara yang reflektif
terhadap situasi yang terjadi. Sehingga jika kedua definisi tersebut dikaitkan
dalam membentuk konten-konten dakwah santri, santri perlu kreatif dalam memilih
gagasan sesuai permasalahan yang sedang terjadi, kemudian kritis terhadap
menyikapi suatu yang baru terjadi di masyarakat saat ini.
Dengan demikian sikap kreatif dan kritis menjadi sangat penting
diterapkan dalam proses mencari konten dakwah santri, baik dalam mencari teks –
teks materi maupun dalam mengaitkan teks dengan konteks. Sehingga nantinya
dalam perjalanan dakwah santri mampu memunculkan pemahaman yang komprehensif,
tidak kaku, dan tidak normatif. Selain itu, dalam menerima informasi santri langsung
sigap dalam memilah dan memilihnya, apakah cocok atau tidak jika disampaikan ke
khalayak umum. Proses semua itu tidak lain hanya untuk memberikan informasi
atau kajian yang valid, dan dapat diterima di masyarakat, terlebih dapat
diyakini kebenarannya dan bisa dipertanguggungjawabkan.
Kesempatan ini yang bisa dilakukan oleh santri untuk memperdalam
digitalisasi literatur santri sebagai penambah konten berdakwah. Semua itu
dapat dilakukan dengan cara menggalakakan pendalam materi dan mengangkat
kajian-kajian kitab kuning. Digitalisasi masif kitab-kitab kuning tentu adalah
kerja yang luar biasa beratnya. Akan tetapi, jika itu dapat dilakukan secara
terstruktur dan didukung oleh semua lini pesantren, digitalisasi akan terkesan
mudah dan istikamah.
Digitalisasi teks-teks pesantren, kalau didokumentasi dengan baik,
akan berdampak positif yaitu memudahkan masyarakat dalam mencari rujukan atau
dalil saat mendapati sesuatu permasalahan yang baru. Masyarakat kita hari ini
membutuhkan informasi yang cepat. Dalam hal ini, konten dakwah santri bisa
digalakan sebagai rujukan masyarakat. Misalnya hasil-hasil bahtsul masil NU
yang notabenya juga sebgai rujukan santri, harus selalu sigap dan tanggap ketika
mendapati fenomena baru di masyarakat. Tentunya, dengan tingkat keterbacaan
yang tinggi, website atau blog santri atau juga bisa dengan media sosial
pesantren yang akan menduduki ranking pertama di mesin pencarian karena dicari
oleh banyak orang.
Salah satu bukti nyata dari peranan dakwah santri di dunia digital
adalah munculnya gerakan ayo mondok. Gerakan ayo mondok ini sempat menjadi international
trending topic di twitterland. Munculnya gerakan ini sbagai
realisasi dari visi misi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH. Said Aqi Siradj tentang
kembali ke pesantren pada Muktamar NU pada 2010 di Makasar. Menurutnya, ruh dan
tulang punggung Nahdlatul Ulama (NU) ada pada pesantren. Dari situlah
diterjemahkan melalui aksi nyata gerakan nasional ayo mondok oleh Pimpinan
Wilayah Rabithah Ma’had Islamiyah Nahdlatul Ulama (PW RMI NU) Jawa Timur.
Kemudian juga muncul dukungan dari PW RMI NU Jateng denga membuat logo gerakan
nasional ayo mondok pesantrenku keren.
Kemudian berlandaskan apa yang telah digelorakan oleh gerakan ayo
mondok, menunjukkan bahwa berdakwah melalui dunia maya dan sosial media menjadi
salah satu alternatif yang tak bisa diabaikan. Berawal dari gerakan ayo mondok,
kemudian muncul beberapa akun-akun yang menggunakan bahasa khas pondok, santri,
dan pesantren, seperti @alasantri, @santrimenara, @santriperumahan @santriIndonesia
@galerisantri dan masih banyak lagi yang dapat kita temukan di pencarian media
sosial.
Saatnya mulai
sekarang, para santri berfikir kreatif dan kritis di dalam media, mulai
merencanakan, mengolah bahan dan menyajikan dengan sajian yang menarik. Sehingga
santri di era digital bukan hanya dituntut sebagai santri yang alim dalam agama
saja tetapi juga melek teknologi dan mampu menyesuaikan perkembangan zaman.
Menancapkan niat untuk semnagat mengegelorakan dakwah khas kepesantrenan dan
ikut mewarnai dunia maya dengan konten – konten positif dan berbobot.
*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar