- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mencetak Generasi Santri di Era Digital
Oleh : M. Aulia Rizal Firmansyah*
“Jika santri sudah memiliki
bekal berupa keilmuan yang kuat, otomatis disisi lain ketika santri ingin
berperan dimana pun akan tegar menghadapi permaslahan yang ada.” Habiburrahman
El Shirazy.
Demikianlah, salah
satu penggalan kalimat yang saya cuplik dari materi webinar Refleksi Kebangsaan
Santri dengan tema “Santri Millenial, Sigap di Era Digital”. Tentu, kalimat
tersebut tersirat makna yang cukup dalam dan memiliki daya tarik tersendiri,
untuk menerjemahkan apa yang dimaksud oleh Habiburrahman El Shirazy penulis
novel “Ayat-ayat Cinta”.
Salah satu
background sastrawan terkenal satu ini telah melampirkan sebuah situasi yang
terjadi di era digital seperti sekarang ini, sumber daya manusia (SDM) terutama
dalam bidang pendidikan semakin meningkat pesat. Apalagi ditambah dengan
pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu yang menyebabkan
masyarakat luas dapat memperoleh dan mengakses informasi dan berbagai ragam
gaya hidup yang terus berkembang. Berbagai perubahan-perubahan yang terjadi di
negeri ini tidak dapat dihindari lagi. Masyarakat semakin berusaha berlomba-lomba
untuk menghadapi persaingan yang super ketat dan semakin hari terus meningkat.
Seiring
perkembangan zaman, permasalah yang begitu kompleks merambah kedalam ranah
pendidikan, baik yang bersifat positif maupun negatif. Tersedianya sumber
keilmuan di dunia maya, informasi yang super cepat dari berbagai belahan dunia
merupakan efek positif dari adanya era digital di dunia pendidikan. Kemudahan
dalam mengakses informasi dan sumber-sumber ilmu merupakan salah satu
sumbangsih dari era digital terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sisi negatif dari adanya era digital di dunia pendidikan juga tak
kalah saing. Era digital mendesian masyarakat luas menjadi karakter manusia
masa kini yang serba instan dan plagiasi pun menjadi hal yang biasa.
Maka dari itu, mengingat bahwa dunia pendidikan merupakan sarana
untuk memajukan umat demi masa depan yang cemerlang, dunia pendididkan
diharapkan mampu mencetak generasi-generasi penerus yang berwawasan luas agar
mempu menghadapi tantangan globalisasi seperti saat ini. Dalam konteks ini,
pendidikan pesentren dapat di munculkan sebagai wadah yang memilki peran penting
untuk membentuk manusia menjadi umat yang berkualitas tinggi hingga mampu arus
globalisasi yang semakin deras.
Habiburrahman El Shirazy fokus terhadap pesantren yang menjadi nauangan
santri, sebagai salah satu solusi untuk menyikapi permaslahan itu semua. Sebagai lembaga
pendidikan Islam tertua yang mampu menanamkan nilai-nilai moral, memperdalam
ilmu agama dan membantuk manusia agar dapat memiliki karakter yang baik, serta
berintegritas tinggi. Dengan adanya pendidikan pesantren diharapkan mampu
menciptakan umat manusia yang tidak hanya bertakwa namun juga berilmu, memiliki
sumber daya tinggi serta berakhlakul karimah. Pendidikan pesantren harus mampu
memberikan keseimbangan antara pemenuhan lahir dan batin, antara pendidikan
agama dan umum. Hal ini lah yang sangat dibutuhkan dan sesuai dengan kebutuhan
pendidikan di era digital yang mana perlu adanya sinergi antara kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keluhuran moral.
Lantas bagaimana cara pendidikan dalam lingkup pesantren siap menghadapi era
digital?
Menciptakan Berbagai Inovasi
Pada masa sekarang
ini, pesantren selain sebagai tempat yang memberikan perubahan baik, bermoral
dan beretika, juga diharapkan mampu meningkatkan peran kelembagaan sebagai
pencetus generasi muda Islam dalam menimba ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai bekal dalam menghadapi era digital. Selain itu, dengan adanya pesantren
diharapkan mampu melakukan berbagai inovasi agar para generasi memiliki wawasan
yang luas dan dapat berdiri tegak di era globalisasi dalam mempertahankan
eksistensi.
Selanjutnya untuk mampu menciptakan berbagai inovasi, pesantren
juga perlu membekali santrinya dengan berbagai macam kecakapan hidup (life
skill), mengingat perkembangan di era digital menekankan pada pentingnya
nilai-nilai kemanusiaan dan kecakapan hidup. Hal inilah yang menjadi nilai
postif dalam pendidikan pesantren selain dapat menyangga nilai-nilai keagamaan
(tafaqquh fid din), dan nilai-nilai kemanusian ada tambahan kecakapan
hidup. Seperti kaidah ushul fiqih Al Muhafadzatul alal Qodimis Shalih, wal
Akhdu bil Jadidil ashlah. Mempertahankan tradisi lama yang baik, mengambil
tradisi baru yang baik.
Dalam hal
nilai-nilai keagamaan, pesantren dapat mengembangkan potensi akademik para
santri dengan pendekatan tradisional, mislanya; sorogan, bandongan, lalaran,
bahtsul masa’il dan wetonan yang tentunya perlu diimbang dengan pendekatan
scientific, agar mampu mengimbangi tantangan di era digital. Kemudian,
untuk nilai-nilai kemanusiaan, pesantren tentunya menerampakan nilai karakter
atau sopan santun dalam beretika. Ketika ada yang lebih muda, menghormati yang
tua. Begitu pula sebaliknya, yang tua menyayangi yang muda. Sebagai
pelengkapnya, kecakapan hidup (life skill) menjadi salah satu alternatif
bagi santri untuk siap terjun kemasyarakat dengan berbagai model keterampilan
yang mereka punyai ketika di pesantren. Maka dengan itulah, tak heran jika
alumni pesantren mampu bersaing di tengah era digital dengan berbagai keahlian
yang mereka miliki.
Meng-Upgrade Pembelajaran Klasik
Meski sejak awal
bedirisnya pesantren mempunyai fungsi edukatif, memberikan ilmu pada para
santri, utamanya ilmu-ilmu agama. Dengan peran inilah pesantren menjadi pusat
bagi lahirnya guru-guru agama. Namun, seiring perkembangan masyarakat di tengah
era digital, peran pesantren diharapkan merambah pada peran tahwiliyah dengan
cara melakukan perubahan dalam masyarakat, baik segi pola pikir, nilai dan
kualitas lainnya. Pesantren harus responsif terhadap perubahan yang terjadi
dalam masyarakat, termasuk dengan cara menghadapi perubahan tersebut. Sosiolog
Emil Durkheim menegaskan bahwa pendidikan memegang kendali penting dalam
mempetahankan kelanggengan kehidupan sosial mayarakat, yaitu mampu hidup
konsisten mengatasi segala bentuk ancaman dan tantangan masa depan.
Untuk menghadapi
tantangan di era digital, pesantren diharapkan tidak hanya mengandalkan metode
klasik saja bahkan perlu juga menerapkan metode-metode modern dalam mendidik
generasi bangsa untuk lebih maju. Dengan adanya pesantren diharapkan mampu memberikan
kebijakan-kebijakan yang lebih bagus untuk menghadapi berbagai tantangan.
Karena tantangan itu semakin banyak, apalagi dari berbagai dunia dengan
mudahnya berselancar kemana-mana.
Sejauh ini
pendidikan khususnya bagi para santri lebih sering berbasis tekstual, dimana
para santri lebih sering membaca teks-teks klasik lalu mencoba memahaminya
dengan berbagai cara diantaranya menghafalkan atau juga mendiskusikan isi dari
teks-teks dengan santri lainnya. Adanya hal semacam itu menjadi salah satu
nilai positif, akan tetapi perlu di-upgrade menuju model kontekstual,
yakni dimana para santri mencoba mengaitkn teks-teks yang telah dibaca dengan
realitas fenomena disekitarnya.
Kalau kita telaah
lebih dalam lagi, sejauh ini model pendidikan kontekstual hanya diterapkan oleh
para santri saat menghadapi momen atau kegiatan bahtsul masa’il, dimana
pada saat itu muncul berbagai macam pertanyaan yang secara langsung juga
dialami oleh santri. Sehingga hal ini dirasa belum bisa maksimal berdampak
terhadap sumber daya santri. Dengan mencoba menerapkan model kontekstual ,
santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari teks bacaan saja, namun juga
akan memperoleh sebuah pemahaman dari proses bertanya, menganalisa atau
menyelidiki lalu melakukan refleksi.
Sisi positif lainnya
dari pembelajaran kontekstual adalah sifat pembelajaran holistik. Dalam
kenyataannya, pembelajaran di madrasah atau pesantren sangat memungkinkan
terarah pada pembelajaran bersifat holistik. Bersifat holistik sendiri
mengandung arti bisa dikaitkan antara permasalahan satu dengan permasalahan
yang lainnya atau satu konteks dengan konteks lainnya. Misalkan dalam satu
pembahasan, biasanya banya sisipan-sisipan bahasa lain seperti pesan moral dan
motivasi yang disampaiakan oleh para guru ataupun kiai. Sehingga dalam sebuah
pembelajaran, para santri nantinya akan mendapatkan porsi ilmu yang utuh alias
tidak terkotak-kotak.
*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar