- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Islam Moderat: Strategi Dakwah
Ala Muslim Indonesia
Oleh: Itsna
Tifani Barokatur R*
“Umat Islam harus menunjukkan
kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang anti terhadap kekerasan“ (KH. Ahmad Hasyim Muzadi, 1994 – 2017).
Demikianlah, salah satu kutipan
Kiai hasyim Muzadi yang memandang bahwa Islam merupakan agama yang damai,
agama yang harus menjadi rahmat bagi seluruh umat di dunia. Sejalan dengan
konsepsi bahwasanya Islam rahmatan lil
aalamiin adalah Islam yang ajaran dan sikap keberagamannya membawa
keberkahan bagi alam semesta, bukan hanya bagi umat Islam saja.
Bertolak pada konsepsi Islam rahmatan lil aalamiin, Indonesia
yang mayoritas penduduknya beragama Islam berupaya menerapkan hal tersebut.
Bahkan, KH. Abdurrahman Wahid (1940 – 2009) pernah melontarkan sebuah julukan
bagi bangsa Indonesia yaitu Negerinya kaum muslim moderat. Julukan tersebut
untuk menilai betapa lenturnya Islam Indonesia yang dapat dijadikan kiblat bagi
negara Islam yang ada di belahan dunia lain. Indonesia mengalami perkembangan
sangat pesat pasca tumbangnya rezim Soeharto (1921 – 2008), hingga mampu
menjadi negara urutan ketiga, setelah India dan Amerika Serikat sebagai negara
demokrasi terbesar di dunia (Wahid, 2006, hlm.60). Tentu, hal ini menjadi
prestasi tersendiri, pasalnya di kawasan Timur Tengah tidak terdapat satupun
negara Islam yang mampu menumbuhkan demokrasi dengan baik.
Mengapa bisa demikian? Beberapa
negara Islam bertanya-tanya mengenai strategi yang diterapkan Indonesia hingga
mampu menjadi Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Hal tersebut tak lain
yakni dengan mengamalkan islam rahmatan lil
aalamiin. Dengan kata lain, Islam yang menanamkan paham moderatisme dalam
berbagai prinsip, seperti al-tawassuṭ atau al-wasaṭ (moderasi), al-qisṭ (keadilan), al-tawāzun (keseimbangan), al-i‘tidāl (keselarasan/kerukunan), dan
semacamnya. Dengan definisi-definisi tersebut, Islam moderat merupakan islam
yang toleran, mampu menghargai pendapat hingga keyakinan masing – masing
individu. Hal tersebut sebagai bentuk rahmat islam ala Indonesia yang lebih
memaknai perdamaian daripada kekuasaan seperti yang diwacanakan oleh
Amerika Serikat.
Namun sayangnya, saat Indonesia
sedang jaya dengan muslim moderatnya, datang milenialisme yang bertolak
belakang dengan Islam moderat yang ada. Kaum milenial saat ini lebih menyukai
sesuatu yang bersifat simpler (lebih
mudah), cheaper (lebih murah), accesible (lebih terjangkau), dan faster (lebih cepat). Kesemua
sifat-sifat tersebut banyak ditemukan sejak maraknya Internet di sekitar kita
yang sangat dimanfaatkan oleh kaum radikal dalam mendakwahkan ajarannya. Maka,
diperlukan strategi-strategi khusus untuk lebih mengembangkan Islam moderat
agar tidak tergerus zaman dan hancur seperti negara-negara Islam lainnya.
Dampak Internet
Internet hampir mendominasi
berbagai sektor pada generasi saat ini. Hampir segala sesuatu yang mereka
lakukan menggunakan pemanfaatan internet. Terutama dalam kegiatan
sehari-hari bahkan hingga ke ranah agama. Dalam hal ini adalah dakwah ajaran
agama, utamanya ajaran agama Islam yang mulai berceceran di dunia maya. Banyak
situs – situs dakwah, ustadz-ustadzah baru yang berdakwah di dunia maya dengan
kapabilitas yang kurang mumpuni, atau justru tidak menerapkan konsepsi Islam rahmatan lil aalamiin dan
mempengaruhi generasi saat ini. Orang-orang yang merasa tidak sempat memberikan
waktunya untuk pergi belajar ilmu agama memilih untuk stay
tune di depan internet dengan mendengarkan ceramah dari pendakwah
tersebut.
Hal tersebut berdampak pada dijadikannya teknologi informasi
seolah-olah sebagai Tuhan. Selain itu, hadir ideologi transnasional yang tidak
perlu menggunakan tokoh agama sebagai human
resourcenya. Hanya melalui publikasi media online, “perdagangan
ideologi” dilakukan hingga menembus jutaan pasang mata generasi muda yang
menyaksikannya. Lahapnya generasi saat ini dengan digital hingga menggelapkan
mereka akan perbedaan yang tidak mereka sadari.(Republika, 2/3/18)
Antisipasi Paham Non-Moderat
Ada beberapa hal yang perlu
ditanamkan untuk mengantisipasi paham-paham yang berkebalikan dengan Islam
moderat ala Indonesia, yaitu menentukan setting awal. Setting awal dimaksudkan
adalah mengatur mindset atau
pola pikir, cara pandang seseorang. Karena mindset mampu
mempengaruhi apa saja yang diterima oleh otak, akan diterima atau ditolak. Pada
setting awal ini, harus menanamkan jiwa rahmatan
lil aalamiin yang sebenarnya. Mampu menerima perbedaan,
mendoktrinnya dengan jiwa moderat yang sesuai dengan ajaran islam.
Selain itu, membuat narasi-narasi
yang berisi nilai-nilai moderasi, kebhinekaan, semangat kebangsaan dengan
tahapan produksi melalui media online, posting dan
re-posting, sharing, dan broadcasting. Tahapan
yang lainnya adalah memproduksi jurnalisme visual. Melalui infografis yang powerful dan menarik minat masyarakat
yang menyaksikan. Serta video-video yang memperlihatkan keberagaman Indonesia
yang moderat dan santun.
Cara-cara tersebutlah yang
dijadikan strategi oleh pengelola ujaran kebencian untuk menyebarluaskan
kebenciannya. Maka, perlu dilakukan cara tandingan untuk mengantisipasi
tersebarnya hatred speech.
Selain itu, sebagai muslim sejati perlu adanya sifat tabbayun agar
lebih bijak dalam menyikapi segala hal. Perlunya memilah antara yang baik dan
benar untuk dikonsumsi dan kelola baik dalam diri sendiri ataupun untuk orang
lain. Dengan cara inilah mempromosikan atau mengenalkan pada generasi saat ini
agar mengenal lebih dengan islam moderat sebagai aset ekspresi muslim ala
Indonesia.
*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar