- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Islam, Media Dakwah,
dan Dinamika Sosial
Oleh: Itsna
Tifani Barokatur R*
Selama ini terkadang
orang masih terkungkung pada makna sempit dakwah Islam itu sendiri. Padahal
jika ditelisik lebih jauh, dakwah mempunyai cakupan dan strategi yang luas.
Medan dan media dakwah selalu berkembang dan mengikuti zaman
Islam datang untuk
menyelesaikan masalah yang ada di suatu komponen masayarakat. Islam hadir
sebagai solusi dan jalan tengah sebuah peradaban dan dinamika sosial. Maka tak
heran jika para Walisongo (para ulama [pendakwah] Islam di tanah Jawa)
mendakwahkan Islam dengan karamah-karamah untuk melawan sihir yang ada di pulau
Jawa kala itu. Karena memang Islam itu adalah penawar dari ketakutan
masyarakat. Sama halnya dengan dakwah Islam di Eropa yang menitikberatkan pada
filsafat dan ilmu pengetahuan. Setiap tempat mempunyai ciri khas dan
permasalahan yang berbeda dan harus diselesaikan dengan cara dan metode
tersendiri pula.
Tak dapat dipungkiri
bahwa zaman selalu bergerak maju dan selalu berubah-ubah senada dengan kaidah
manthiqi al-‘alam mutaghayyir. Berubah dalam hal apa? Tentu saja peradaban dan
teknologi. Adakalanya ini karena kreativitas dan inovasi adakalanya bersifat
solusi dari sebuah permasalahan. Tak terkecuali inovasi-inovasi yang disebabkan
oleh korona ini. Para pendakwah menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan
jaringan dan media dakwah yang luas dan ringan tapi dengan bobot yang
berkualitas.
Globalisasi dan Dakwah Abad 21
Dunia yang kian
mengglobal ini seolah menjadi sebuah desa kecil dalam genggaman setiap manusia.
Kita yang di Indonesia dapat mengetahui langsung berita-berita aktual di manca
negara. Kita juga dapat terhubung dengan berbagai orang di belahan bumi lainnya
hanya dalam hitungan detik. Selain itu, kita juga dapat menikmati rasanya
berbelanja dan berbisnis serta belajar secara daring yang sangat efektif dan
efisien.
Era society 5.0, di
mana terjadi kolaborasi antara manusia dan teknologi, menjadi sebuah ruang baru
dalam dinamika sosial kita hari ini. Sinergitas antara kebudayaan, keilmuan,
dan teknologi harus berjalan selaras dan seimbang. Karena itu semua adalah
tuntutan zaman yang harus kita kolaborasikan bukan kita benturkan satu sama
lain. Di dunia yang semakin pesat ini kita harus berbenah untuk mendidik dan
berdakwah sesuai dengan zaman dan kebutuhan.
Hal ini senada dengan
Qawa’id al-Fiqhiyyah; al-Muhafadlatu ala Qadimi al-Shalih wa al-Akhdu bi
al-Jadidi al-Ashlah. (Melestarikan suatu yang baik dan mengambil hal baru yang
lebih baik) atau istilah kerennya merawat tradisi, menebar inovasi. Ini
menunjukkan bahwa Islam itu tidak membatasi kreativitas dan hal-hal baru. Islam
itu unik dan mendorong umatnya untuk berinovasi dalam berbagai hal terutama
dalam dakwah keislaman.
Selama ini terkadang
orang masih terkungkung pada makna sempit dakwah Islam itu sendiri. Padahal jika
ditelisik lebih jauh, dakwah mempunyai cakupan dan strategi yang luas. Medan
dan media dakwah selalu berkembang dan mengikuti zaman. Menjawab berbagai macam
permasalahan yang ada di masyarakat luas. Dahulu para pendakwah menyatukan
persepsi masyarakat Nusantara dengan ajaran-ajaran Islam yang membumi, mereka
mengawinkan budaya setempat dengan Islam. Dakwah Islam yang ramah dan moderat
dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat sehingga lahirlah Islam dengan
corak khusus daerah tersebut.
Ulama, Pandemi, dan Inovasi
Ulama selalu menjadi
titik sentral suatu kehidupan sosial kemasyarakatan. Masyarakat selalu lebih
memercayai tokoh-tokoh agama dan ulama di lingkungan sekitar mereka. Dalam
istilah Jawa: sendika dawuh atau dalam istilah santrinya: sami’na wa atha’na.
Begitulah kiranya sikap masyarakat terhadap tokoh agama di sekitarnya. Hal ini
didasari karena ulama memberikan rasa nyaman dan aman pada masyarakat. Ulama
dipandang sebagai sebuah oase yang dapat menyelesaikan berbagai macam masalah
di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, tak heran jika masyarakat selalu menaruh
hormat dan segan terhadap ulama.
Ulama dan lembaga
keagamaan sudah sepatutnya berjalan beriringan. Lembaga keagamaan merupakan
wadah yang bisa menjadi legitimasi bagi ulama untuk menyampaikan dakwahnya.
Dalam hal ini, lembaga keagamaan bisa membuat suatu platform atau kanal-kanal
media yang nantinya bisa diberdayakan oleh anggota dan tentu saja ulama secara
praktis.
Hal ini akan sangat
bermanfaat pada generasi milenial dan umat muslim perkotaan. Kepercayaan dan
antusiasme masyarakat dapat dengan mudah diraih jika keduanya saling bekerja
sama dan memiliki misi yang sama. Dakwah melalui media-media yang semakin pesat
bisa dikembangkan lagi melalui studi keilmuan keislaman melalui video animasi,
bisa berbentuk narasi cerita yang memiliki plot atau hanya pemaparan materi
semata. Potongan-potongan video mengenai nasehat agama juga bisa dimasifkan
persebarannya. Tulisan-tulisan dalam artikel keagamaan bisa diambil intisarinya
agar ringan dan dapat dibaca dalam hitungan menit. Dakwah menggunakan
media-media audio visual bisa menjadi alternatif yang ampuh dalam masa pandemi
ini.
Di tengah pandemi ini,
sudah sewajarnya kita semua berimprovisasi dalam berdakwah. Dakwah Islam yang
tadinya eksklusif bisa digaungkan secara luas tanpa mengenal batasan usia,
waktu, tempat, dan lain sebagainya. Kita mungkin mengenal istilah EdTech 2.0
dimana proses pembelajaran akan menggunakan media-media berbasis AI (Artificial
Intellegence), kecerdasan buatan, dan digital learning. Tentu saja, ini adalah
imbas dari modernisasi yang begitu cepat.
Dakwah Islam kedepannya
adalah konsep yang menyesuaikan perilaku hidup generasi milenial, penyampaian
yang atraktif melalui AI dapat menjadi suatu terobosan baru dalam menggembleng calon
ulama dari rumah masing-masing. Yang tak kalah penting adalah ke depan mungkin
kita bisa menggunakan teknologi hologram. Jadi, kita dapat menyaksikan para
kiai-kiai pesantren yang sedang membaca kitab kuning di rumah kita secara
detail. Hal ini bisa dicapai jika kita saling sadar terhadap pentingnya
teknologi.
Pandemi yang membuat
kita berada di rumah untuk beberapa waktu harus menjadikan diri kita kreatif
dan produktif. Kita harus menjadi generasi yang tak hanya berpangku tangan tapi
juga berinovasi untuk kepentingan orang banyak. Memanfaatkan teknologi secara
tepat dapat memaksimalkan peran kita terhadap diri kita sendri dan orang lain.
Teknologi merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita
semua harus pintar beradaptasi dan berkolaborasi dengan zaman yang tak menentu.
Perubahan itu diperlukan adanya, tapi harus tetap berada pada poros tradisi
yang sesuai. Agar dakwah-dakwah melalui teknologi bisa diterima dengan apik
oleh khalayak umum.
*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar