P eran Pendidikan Pondok Pesantren dalam Perbaikan Kondisi Keberagaman Lingkungan              Oleh : Khumairoh* Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang berbasis masyarakat penyelenggaraannya meliputi pendidikan diniyyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya (IKAPI, 2010: 146), tujuan pondok pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli agama ( Mutafaqqih fi al-din ) dan menjadi muslim yang memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kualitas untuk membangun kehidupan yang Islami di lingkungan masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka peran pesantren di lingkungan masyarakat sangat besar. Oleh karena itu, kita tidak dapat mendiskreditkan keberadaan pesantren di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada sudut pandang lain, fungsi pendidikan pondok pesantren dapat dikatakan sebagai alat pengend...

 

Islam, Media Dakwah, dan Dinamika Sosial

Oleh: Itsna Tifani Barokatur R*

Selama ini terkadang orang masih terkungkung pada makna sempit dakwah Islam itu sendiri. Padahal jika ditelisik lebih jauh, dakwah mempunyai cakupan dan strategi yang luas. Medan dan media dakwah selalu berkembang dan mengikuti zaman

Islam datang untuk menyelesaikan masalah yang ada di suatu komponen masayarakat. Islam hadir sebagai solusi dan jalan tengah sebuah peradaban dan dinamika sosial. Maka tak heran jika para Walisongo (para ulama [pendakwah] Islam di tanah Jawa) mendakwahkan Islam dengan karamah-karamah untuk melawan sihir yang ada di pulau Jawa kala itu. Karena memang Islam itu adalah penawar dari ketakutan masyarakat. Sama halnya dengan dakwah Islam di Eropa yang menitikberatkan pada filsafat dan ilmu pengetahuan. Setiap tempat mempunyai ciri khas dan permasalahan yang berbeda dan harus diselesaikan dengan cara dan metode tersendiri pula.

Tak dapat dipungkiri bahwa zaman selalu bergerak maju dan selalu berubah-ubah senada dengan kaidah manthiqi al-‘alam mutaghayyir. Berubah dalam hal apa? Tentu saja peradaban dan teknologi. Adakalanya ini karena kreativitas dan inovasi adakalanya bersifat solusi dari sebuah permasalahan. Tak terkecuali inovasi-inovasi yang disebabkan oleh korona ini. Para pendakwah menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan jaringan dan media dakwah yang luas dan ringan tapi dengan bobot yang berkualitas.

Globalisasi dan Dakwah Abad 21

Dunia yang kian mengglobal ini seolah menjadi sebuah desa kecil dalam genggaman setiap manusia. Kita yang di Indonesia dapat mengetahui langsung berita-berita aktual di manca negara. Kita juga dapat terhubung dengan berbagai orang di belahan bumi lainnya hanya dalam hitungan detik. Selain itu, kita juga dapat menikmati rasanya berbelanja dan berbisnis serta belajar secara daring yang sangat efektif dan efisien.

Era society 5.0, di mana terjadi kolaborasi antara manusia dan teknologi, menjadi sebuah ruang baru dalam dinamika sosial kita hari ini. Sinergitas antara kebudayaan, keilmuan, dan teknologi harus berjalan selaras dan seimbang. Karena itu semua adalah tuntutan zaman yang harus kita kolaborasikan bukan kita benturkan satu sama lain. Di dunia yang semakin pesat ini kita harus berbenah untuk mendidik dan berdakwah sesuai dengan zaman dan kebutuhan.

Hal ini senada dengan Qawa’id al-Fiqhiyyah; al-Muhafadlatu ala Qadimi al-Shalih wa al-Akhdu bi al-Jadidi al-Ashlah. (Melestarikan suatu yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) atau istilah kerennya merawat tradisi, menebar inovasi. Ini menunjukkan bahwa Islam itu tidak membatasi kreativitas dan hal-hal baru. Islam itu unik dan mendorong umatnya untuk berinovasi dalam berbagai hal terutama dalam dakwah keislaman.

Selama ini terkadang orang masih terkungkung pada makna sempit dakwah Islam itu sendiri. Padahal jika ditelisik lebih jauh, dakwah mempunyai cakupan dan strategi yang luas. Medan dan media dakwah selalu berkembang dan mengikuti zaman. Menjawab berbagai macam permasalahan yang ada di masyarakat luas. Dahulu para pendakwah menyatukan persepsi masyarakat Nusantara dengan ajaran-ajaran Islam yang membumi, mereka mengawinkan budaya setempat dengan Islam. Dakwah Islam yang ramah dan moderat dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat sehingga lahirlah Islam dengan corak khusus daerah tersebut.

Ulama, Pandemi, dan Inovasi

Ulama selalu menjadi titik sentral suatu kehidupan sosial kemasyarakatan. Masyarakat selalu lebih memercayai tokoh-tokoh agama dan ulama di lingkungan sekitar mereka. Dalam istilah Jawa: sendika dawuh atau dalam istilah santrinya: sami’na wa atha’na. Begitulah kiranya sikap masyarakat terhadap tokoh agama di sekitarnya. Hal ini didasari karena ulama memberikan rasa nyaman dan aman pada masyarakat. Ulama dipandang sebagai sebuah oase yang dapat menyelesaikan berbagai macam masalah di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, tak heran jika masyarakat selalu menaruh hormat dan segan terhadap ulama.

Ulama dan lembaga keagamaan sudah sepatutnya berjalan beriringan. Lembaga keagamaan merupakan wadah yang bisa menjadi legitimasi bagi ulama untuk menyampaikan dakwahnya. Dalam hal ini, lembaga keagamaan bisa membuat suatu platform atau kanal-kanal media yang nantinya bisa diberdayakan oleh anggota dan tentu saja ulama secara praktis.

Hal ini akan sangat bermanfaat pada generasi milenial dan umat muslim perkotaan. Kepercayaan dan antusiasme masyarakat dapat dengan mudah diraih jika keduanya saling bekerja sama dan memiliki misi yang sama. Dakwah melalui media-media yang semakin pesat bisa dikembangkan lagi melalui studi keilmuan keislaman melalui video animasi, bisa berbentuk narasi cerita yang memiliki plot atau hanya pemaparan materi semata. Potongan-potongan video mengenai nasehat agama juga bisa dimasifkan persebarannya. Tulisan-tulisan dalam artikel keagamaan bisa diambil intisarinya agar ringan dan dapat dibaca dalam hitungan menit. Dakwah menggunakan media-media audio visual bisa menjadi alternatif yang ampuh dalam masa pandemi ini.

Di tengah pandemi ini, sudah sewajarnya kita semua berimprovisasi dalam berdakwah. Dakwah Islam yang tadinya eksklusif bisa digaungkan secara luas tanpa mengenal batasan usia, waktu, tempat, dan lain sebagainya. Kita mungkin mengenal istilah EdTech 2.0 dimana proses pembelajaran akan menggunakan media-media berbasis AI (Artificial Intellegence), kecerdasan buatan, dan digital learning. Tentu saja, ini adalah imbas dari modernisasi yang begitu cepat.

Dakwah Islam kedepannya adalah konsep yang menyesuaikan perilaku hidup generasi milenial, penyampaian yang atraktif melalui AI dapat menjadi suatu terobosan baru dalam menggembleng calon ulama dari rumah masing-masing. Yang tak kalah penting adalah ke depan mungkin kita bisa menggunakan teknologi hologram. Jadi, kita dapat menyaksikan para kiai-kiai pesantren yang sedang membaca kitab kuning di rumah kita secara detail. Hal ini bisa dicapai jika kita saling sadar terhadap pentingnya teknologi.

Pandemi yang membuat kita berada di rumah untuk beberapa waktu harus menjadikan diri kita kreatif dan produktif. Kita harus menjadi generasi yang tak hanya berpangku tangan tapi juga berinovasi untuk kepentingan orang banyak. Memanfaatkan teknologi secara tepat dapat memaksimalkan peran kita terhadap diri kita sendri dan orang lain. Teknologi merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita semua harus pintar beradaptasi dan berkolaborasi dengan zaman yang tak menentu. Perubahan itu diperlukan adanya, tapi harus tetap berada pada poros tradisi yang sesuai. Agar dakwah-dakwah melalui teknologi bisa diterima dengan apik oleh khalayak umum.


*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini