- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Eksistensi Aksara Pegon dalam Pembelajaran
di Pondok Pesantren
Oleh : Farida Hanum*
Dalam buku Atlas
Walisongo karya Agus Sunyoto, pesantren merupakan islamisasi pendidikan
lokal yang berbasis Hindu-Budha di Nusantara. Mulai walisongo ini, semua
diakulturasikan dengan nilia-nilai ajaran agama Islam. Dalam hal ini, pesantren
sangat erat kaitannya dengan santri. Menurut Agus Sunyoto, kata ‘santri’
merupakan adaptasi dari kata sashtri yang mempunyai makna orang-orang
yang mempelajari kitab suci (sashtra). Menurut Herman DM dalam jurnal Al-Ta’dib
Sejarah Pesantren di Indonesia, Ia mengatakan bahwa pesantren setidaknya
memiliki tiga unsur, yaitu santri, kiai atau guru dan asrama atau pondok.
Disamping
itu, pondok pesantren umumnya merupakan lembaga pendidikan non-formal yang mempelajari
kitab-kitab yang ditulis oleh ulama’ pada zaman abad pertengahan. Keberadaan
pesantren ditengah-tengah masyarakat merupakan suatu peran yang baik untuk
menempatkan diri sebagai seorang menanamkan nilai-nilai menghargai antar
sesama. Hubungan yang baik antara masyarakat dan pesantren juga merupakan saran
untuk mengajarkan dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.
Dalam hal ini, pesantren dapat diartikan sebagai lembaga pendidikan yang
secara historis termasuk pendidikan Islam yang paling awal sampai sekarang.
Pesantren juga telah berperan aktif dalam penyebaran dakwah agama islam melalui
para ulama’. Peran pesantren untuk memajukan pendidikan juga tak pernah
diragukan dengan berbagai metode dalam memahaminya. Salah satunya dengan kajian
kitab klasik (kuning) dengan menggunakan aksara pegon.
Sejarah Aksara Pegon di Indonesia
Islam sangat mengenal aksara jawa, huruf ini sangat terkenal sejak
masuknya Islam ke Nusantara. Aksara pegon ini merupakan tradisi lokal
masyarakat jawa yang diakulturasikan dengan ajaran-ajaran islam melalui teks
yang mudah dipahami masyarakat setempat.
Huruf aksara pegon lahir dikalangan pondok pesantren untuk memaknai atau menerjemahkan kitab-kitab
berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa atau Indonesia untuk mempermudah
penulisannya. Meskipun dilingkungan luar pesantren juga ada pembelajaran kitab,
namun sulit sekali ditemukan pembelajaran kitab kuning. Dalam penulisannya
huruf vocal diwakili dengan huruf-huruf
yang dalam tulisan arab berfungsi memanjangkan bacaan huruf, yakni alif, wawu
dan ya’. Sedangkan huruf konsonan ditulis arab pegon diwakili huruf-huruf
hijaiyyyah yang mirip bunyinya.
Aksara pegon juga merupakan salah satu media pendidikan dan dakwah
khususnya di kalangan santri dan masyarakat. Dalam hal ini, aksara jawa
memiliki peran yang penting dalam dakwah dan pendidikan islam, karena
tulisannya yang sudah mengandung tulisan arab dengan menggunakan bacaan
nusantara. Banyak masyarakat islam di Jawa, terutama kalangan islam tradisional
sebagian besar sangat mengenal huruf pegon dengan baik. Huruf ini sangat
populer paska masuknya Islam masuk di Nusantara. Kolaborasi antara huruf Arab
dan bahasa Jawa ini telah menjadi ukuran kemandirian Islam lokal di tanah Jawa
sejak dahulu. Dengan demikian aksara pegon telah menjadi sebuah sarana yang
dipahami dan dipelajari secara turun temurun dikalangan Islam tradisional,
terutama sekali para ulama dan santri sebagai pelaku dakwah dalam pendidikan
Pondok Pesantren.
Eksistensi Aksara Pegon Masa Kini
Saat ini, kita menyaksikan nyaris tidak ada lembaga yang betul-betul
hidup di masyarakat yang memikirkan dan mengupayakan pelestarian khazanah
aksara pegon. Pesantren pada dasarnya memiliki potensi untuk ikut terlibat
dalam upaya pelestarian aksara pegon. Dalam kehidupan sehari-hari pesantren
modern banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Selain
itu, melalui pengajian kitab kuning dan pembelajaran di kelas, pembacaan
syi‘ir-syi‘ir berbahasa arab, penerjemahan kitab-kitab keislaman klasik ke
dalam bahasa Indonesia, pesantren menunjukkan sumbangannya pada pelestarian
aksara pegon.
Melihat fakta yang ada saat ini, aksara pegon memiliki peran yang
penting dalam membantu memahami teks arab. Proses metode ini cenderung meneliti
kata per kata dalam teks arab, sehingga dapat lebih teliti dalam memahaminya.
Perkembangan pembelajaran bahasan di Indonesia sangat berkembang,
dibuktikan dengan beberapa turut serta dalam pembelajaran di pesantren,
diantaranya, pertama, media menulis untuk teks-teks keagamaan. kedua,
media penerjemahan kitab-kitab salaf dengan metode salaf. Ketiga, media
untuk menghafal mufrodat dalam bahasa Arab. Keempat, menjadi langkah
awal untuk kosa kata arab masuk ke dalam bahsa jawa dan Indonesia. Kelima,
media untuk perkembangan membaca dan memahami teks Arab. Keenam,media
untuk memahami tatanan bahasan Arab dengan mempelajari ilmu alat. [1]
Aksara jawa juga memiliki peran yang nyata dalam perkembangan
pembelajaran bahasa Arab, seperti permaknaan dalam kitab kuning di pondok salaf
maupun pondok modern yang berbasis pesantren di seluruh nusantara. Peran ini
bukan hanya dalam pesantren, tapi dalam masyarakat nusantara sangat
berpengaruh. Terbukti dengan adanya akulturasi budaya dengan masyarakat lokal. Mereka
menggunakan huruf hijaiyyah dengan menyambungkan ke bahasa mereka, seperti
bahasa sunda, bahasa bughis dan bahasa Madura. Hal ini menandakan bahwa di
masyarakat aksara pegon ini menjadi bukti penyebaran islam.
Sumber :
Ibnu
Fikri, M.S.i, Aksara Pegon, (Semarang, LP2M : 2014)
Nasikhun Amin, 2018. Lirboyonet
*) Mahasiswa KKN
RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52
[1] Nasikhun Amin, 2018. Lirboyonet
Sumber : Ibnu Fikri, M.S.i, Aksara Pegon,
(Semarang, LP2M : 2014)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar