P eran Pendidikan Pondok Pesantren dalam Perbaikan Kondisi Keberagaman Lingkungan              Oleh : Khumairoh* Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang berbasis masyarakat penyelenggaraannya meliputi pendidikan diniyyah atau secara terpadu dengan jenis pendidikan lainnya (IKAPI, 2010: 146), tujuan pondok pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli agama ( Mutafaqqih fi al-din ) dan menjadi muslim yang memiliki pengetahuan dan keterampilan atau kualitas untuk membangun kehidupan yang Islami di lingkungan masyarakat. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka peran pesantren di lingkungan masyarakat sangat besar. Oleh karena itu, kita tidak dapat mendiskreditkan keberadaan pesantren di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada sudut pandang lain, fungsi pendidikan pondok pesantren dapat dikatakan sebagai alat pengend...

 

Eksistensi Aksara Pegon dalam Pembelajaran di Pondok Pesantren
Oleh : Farida Hanum*

Dalam buku Atlas Walisongo karya Agus Sunyoto, pesantren merupakan islamisasi pendidikan lokal yang berbasis Hindu-Budha di Nusantara. Mulai walisongo ini, semua diakulturasikan dengan nilia-nilai ajaran agama Islam. Dalam hal ini, pesantren sangat erat kaitannya dengan santri. Menurut Agus Sunyoto, kata ‘santri’ merupakan adaptasi dari kata sashtri yang mempunyai makna orang-orang yang mempelajari kitab suci (sashtra). Menurut Herman DM dalam jurnal Al-Ta’dib Sejarah Pesantren di Indonesia, Ia mengatakan bahwa pesantren setidaknya memiliki tiga unsur, yaitu santri, kiai atau guru dan asrama atau pondok.

Disamping itu, pondok pesantren umumnya merupakan lembaga pendidikan non-formal yang mempelajari kitab-kitab yang ditulis oleh ulama’ pada zaman abad pertengahan. Keberadaan pesantren ditengah-tengah masyarakat merupakan suatu peran yang baik untuk menempatkan diri sebagai seorang menanamkan nilai-nilai menghargai antar sesama. Hubungan yang baik antara masyarakat dan pesantren juga merupakan saran untuk mengajarkan dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.

Dalam hal ini, pesantren dapat diartikan sebagai lembaga pendidikan yang secara historis termasuk pendidikan Islam yang paling awal sampai sekarang. Pesantren juga telah berperan aktif dalam penyebaran dakwah agama islam melalui para ulama’. Peran pesantren untuk memajukan pendidikan juga tak pernah diragukan dengan berbagai metode dalam memahaminya. Salah satunya dengan kajian kitab klasik (kuning) dengan menggunakan aksara pegon.

Sejarah Aksara Pegon di Indonesia

Islam sangat mengenal aksara jawa, huruf ini sangat terkenal sejak masuknya Islam ke Nusantara. Aksara pegon ini merupakan tradisi lokal masyarakat jawa yang diakulturasikan dengan ajaran-ajaran islam melalui teks yang mudah dipahami masyarakat setempat.

Huruf aksara pegon lahir dikalangan pondok pesantren untuk  memaknai atau menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa atau Indonesia untuk mempermudah penulisannya. Meskipun dilingkungan luar pesantren juga ada pembelajaran kitab, namun sulit sekali ditemukan pembelajaran kitab kuning. Dalam penulisannya huruf  vocal diwakili dengan huruf-huruf yang dalam tulisan arab berfungsi memanjangkan bacaan huruf, yakni alif, wawu dan ya’. Sedangkan huruf konsonan ditulis arab pegon diwakili huruf-huruf hijaiyyyah yang mirip bunyinya.

Aksara pegon juga merupakan salah satu media pendidikan dan dakwah khususnya di kalangan santri dan masyarakat. Dalam hal ini, aksara jawa memiliki peran yang penting dalam dakwah dan pendidikan islam, karena tulisannya yang sudah mengandung tulisan arab dengan menggunakan bacaan nusantara. Banyak masyarakat islam di Jawa, terutama kalangan islam tradisional sebagian besar sangat mengenal huruf pegon dengan baik. Huruf ini sangat populer paska masuknya Islam masuk di Nusantara. Kolaborasi antara huruf Arab dan bahasa Jawa ini telah menjadi ukuran kemandirian Islam lokal di tanah Jawa sejak dahulu. Dengan demikian aksara pegon telah menjadi sebuah sarana yang dipahami dan dipelajari secara turun temurun dikalangan Islam tradisional, terutama sekali para ulama dan santri sebagai pelaku dakwah dalam pendidikan Pondok Pesantren.

Eksistensi Aksara Pegon Masa Kini

Saat ini, kita menyaksikan nyaris tidak ada lembaga yang betul-betul hidup di masyarakat yang memikirkan dan mengupayakan pelestarian khazanah aksara pegon. Pesantren pada dasarnya memiliki potensi untuk ikut terlibat dalam upaya pelestarian aksara pegon. Dalam kehidupan sehari-hari pesantren modern banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Selain itu, melalui pengajian kitab kuning dan pembelajaran di kelas, pembacaan syi‘ir-syi‘ir berbahasa arab, penerjemahan kitab-kitab keislaman klasik ke dalam bahasa Indonesia, pesantren menunjukkan sumbangannya pada pelestarian aksara pegon.

Melihat fakta yang ada saat ini, aksara pegon memiliki peran yang penting dalam membantu memahami teks arab. Proses metode ini cenderung meneliti kata per kata dalam teks arab, sehingga dapat lebih teliti dalam memahaminya.

Perkembangan pembelajaran bahasan di Indonesia sangat berkembang, dibuktikan dengan beberapa turut serta dalam pembelajaran di pesantren, diantaranya, pertama, media menulis untuk teks-teks keagamaan. kedua, media penerjemahan kitab-kitab salaf dengan metode salaf. Ketiga, media untuk menghafal mufrodat dalam bahasa Arab. Keempat, menjadi langkah awal untuk kosa kata arab masuk ke dalam bahsa jawa dan Indonesia. Kelima, media untuk perkembangan membaca dan memahami teks Arab. Keenam,media untuk memahami tatanan bahasan Arab dengan mempelajari ilmu alat. [1]

Aksara jawa juga memiliki peran yang nyata dalam perkembangan pembelajaran bahasa Arab, seperti permaknaan dalam kitab kuning di pondok salaf maupun pondok modern yang berbasis pesantren di seluruh nusantara. Peran ini bukan hanya dalam pesantren, tapi dalam masyarakat nusantara sangat berpengaruh. Terbukti dengan adanya akulturasi budaya dengan masyarakat lokal. Mereka menggunakan huruf hijaiyyah dengan menyambungkan ke bahasa mereka, seperti bahasa sunda, bahasa bughis dan bahasa Madura. Hal ini menandakan bahwa di masyarakat aksara pegon ini menjadi bukti penyebaran islam.

 

 

Sumber :

 Ibnu Fikri, M.S.i, Aksara Pegon, (Semarang, LP2M : 2014)

Nasikhun Amin, 2018. Lirboyonet

 

*) Mahasiswa KKN RDR UIN Walisongo Semarang Posko 52



[1] Nasikhun Amin, 2018. Lirboyonet

Sumber : Ibnu Fikri, M.S.i, Aksara Pegon, (Semarang, LP2M : 2014)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini